Makna dibalik Bersilaturrahmi

Makna dibalik Bersilaturrahmi

Oleh : Ulviana Nurul Magfiroh


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wallilah hilham. Itulah suara takbir, tak terasa hari raya Idul Fitri telah tiba. Nampaknya baru kemarin menunaikan ibadah puasa. Pagi ini kami sekeluarga menunaikan salat Id di Musala. Setelah selesai salat Id kami bersalam-salaman dengan warga di Musala.

Lalu kami sekeluarga pulang dan makan ketupat buatan kakek. Kemuadian kami berkunjung di rumah-rumah di sekitar lingkungan desa kami. Itu membuatku senang karena di hari raya ini aku bisa meminta maaf kepada semua warga desa, tak lupa aku minta maaf kepada ayah dan ibu. Akan tetapi kesenangan ini hanya bergulir tiga hari saja. Karena dua hari lagi Ayah dan Ibu mulai berangkat kerja setelah libur lebaran. Setelah itu kami pulang dan beristirahat.

Hari semakin siang dan panas, tapi ayah mengajakku pergi.

“yah mau pergi kemana?” tanyaku.

“Ayah ingin mengajakmu bersilaturrahmi di rumah saudara nenekmu” jawab ayah.

Ternyata ayah mengajaku pergi sekaligus bersilaturrahmi di rumah saudara nenek yang sudah beberapa tahun ayah tidak menjenguknya karena kesibukan ayah kepada kerjaannya. Aku semakin penasaran karena aku tidak mengetahui orang yang dimaksud ayah,” kataku dalam hati.

Kemudian, aku dan ayahpun berangkat menuju rumah saudara nenek. Perjalanannya lumayan jauh. Harus melewati jalan yang sempit, berbatuan dan jalan yang sudah rusak. Itu sangat mengerikan. Tidak lama lagi aku dan ayah sudah sampai di depan gang rumah saudara nenek.

Tiba disana aku tidak percaya kalau ini rumahnya yang seperti rumah hantu.

“Apa benar ini rumahnya yah?” tanyaku sambil ragu-ragu.

“Iya ini benar rumahnya” jawab Ayah.

Ayah sudah berjalan menuju pintu depan rumah kakek nenek, tapi aku masih ragu-ragu dan takut.

“Assalamualaikum?” Ucapku dan ayah.

“Waalaikumsalam” jawab seorang nenek tua.

Aku dan ayahpun dipersilahkan masuk dan duduk di kursi yang sudah rapuh, dan tidak layak dipakai. Aku pun melihat keatas, alangkah kasihannya jika ada hujan pasti bocor, karena banyak atap rumahnya yang berlubang dan pasti kedinginan.” Ungkapku  di dalam hati kecilku.

Karena sudah tua nenek itu penglihatanya sudah kabur, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang seumuran denganku. Dia namanya Joko.

“ini minumnya pak, silahkan diminum?” kata Joko.

“iya, terimakasih”, jawab ayah.

Aku kagum dan malu dengan Joko dia harus melayani nenek dan ayahnya yang terbaring di tempat tidur yang sedang sakit. Karena biaya Joko tidak bisa memperiksakan ayahnya di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat. Sedangkan ibunya kerja diluar negeri.

Biasanya Joko sepulang sekolah. Ia langsung bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan hasil jerih payahnya dikumpulkan untuk membeli obat untuk Ayahnya dan keperluan sekolah. Terkadang ada tentangganya yang membantu.

Aku sangat kagum dengan sifat Joko dan kepribadian Joko yang sabar, mandiri dan tabah akan kerasnya hidup yang di jalaninya. Sifat Joko jauh berbeda denganku, aku yang selalu manja dan hanya merepotkan kedua orang tuaku saja. Matahari sudah mulai terbenam, menunjukan hari sudah mulai malam. Rasanya sudah cukup lama aku bersilaturrahmi dirumah saudara nenek. Sebelum pulang kami berpamitan dengan nenek, ayahnya Joko, dan Joko.

Tiba dirumah aku terbayang-bayang dengan sifat Joko yang sabar. Akan menjalani hidupnya bersama kedua orang yang disayanginya. Begitu banyak makna yang kupetik dari bersilaturrahmi di rumah saudara nenek tadi. Itu adalah suatu pelajaran yang berharga untukku agar aku menjadi orang yang sabar dan mengetahui bagaimana kerasnya hidup.  

Hello World!

Welcome to MyWapBlog.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!